Mahasiswa Boneka

Rabu, 17 November 2010

Mahasiswa = Apatis/ Pragmatis/ Hedonis


Manusia memiliki kecenderungan dalam hidupnya. Kecenderungan untuk menghindari rasa sakit dan mengusahakan rasa nikmat. Kecenderungan ini bersifat individual yang kuat dan dalam masyarakat prakteknya antar individu memiliki kada dan metode yang unik antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak sedikit individu menjadikan nikmat sebagai tujuanutama dalam hidupnya dan menomorsekiankan sekian hal yan g lebih bermakna untuk hidupnya baik secara langsung atau tidak.

Pada dasarnya, nikmat itu sebenarnya tidak dapat dijadikan tujuan utama kita dalam melangkah. Nikmat justru akan menghilang kalau kita jadikan tujuan utama, akan tetapi nikmat itu sebenarnya ada di balik setiap tindakan bermakna yang kita kerjakan. Nikmat akan setia mengikuti setiap tindakan bermakna kita. Manusia hidup bijaksana semakin ia mengembangkan diri secara utuh. Pengembangan diri ini yang harus kita garis bawahi dan temukan apa dan bagaimana sebenarnya yang harus direncanakan.

Orang tidak berkembang dengan memandang, merenung, dan merefleksikan diri (meski kadang itu perlu) melainkan dengan melihat keluar, dengan menjawab apa yang dalam situasi tertentu diharapkan dari kita. Kesalahan persepsi personal (khususnya para pemuda) dalam dinamika kehidupan mengarahkan mereka pada karakter apatis, hedonis, dan pragmatis. Dengan hanya memandang, merenung dan merefleksikan saja, mereka anggap itu semua yang terbaik dan seharusnya mereka lakukan. Kalaupun harus menganalogikan dalam lingkup agama, sifat ini hanya pada tataran mengaku beragama, merenungkan ajaran yang ada di dalamnya dan merefleksikan terhadap dirinya tanpa adanya prakterk real yang benar-benar keluar secara murni untuk beribadah sesuai kepercayaannya.

Pola hidup yang pragmatis terkadang bisa kita benarkan. Pada hakikatnya memang setiap keterampilan dan ajaran begitu pula tindakan dan keputusan tampaknya mengejar salah satu nilai. Akan tetapi, nilai ini menjadikan tolak ukur apakah kita sudah maksimal mengembangkan diri secara utuh untuk menjadi manusia yang bijak. Nilai yang kita jadikan sasaran utama apakah merupakan nilai tertinggi yang bisa dicapai dalam upayanya (tentu dengan tindakan penuh makna). Nilai-nilai ini dalam setiap tindakan yang akan memberikan bandrol berkualitas tinggi, sedang atau rendah atau bahkan buruk dari si pelakunya.

Melihat fenomena yang terjadi pada kaum intelektual kita "mahasiswa", mereka datang dari latar belakang yang unik begitu juga dengan "nilai" sebagai tujuan utama merekapun pastinya juga unik. Nilai tertinggi yang mereka anggap dapat mereka representasikan berbeda kadarnya. Semisal, mahasiswa akademisi berpandangan ilmu saluran dari pengajar dan buku ajar yang disedikan sudah begitu kaya bagi mereka. Tujuan mereka tidak lain adalah abjad sebagai representasi nilai kumulatif yang akan mereka terima di akhir semester (terlepas penilaian itu bersifat subjektif atau objektif). Mahasiswa ini sering mendapat perlakuan istimewa dari pihak lembaga, padahal kontribusi yang mereka berikan tidaklah jelas, bahkan hanya utuk dirinya sendiri. Kelompok mahasiswa ini bisa dianalogikan sebagai "mahasiswa bebek", mudah digiring kemana saja sesuai kebijakan.

Berbeda dengan mahasiswa berlabel organisatoris, dimana mereka belajar tidak hanya pada teori saja, melainkan terjun langsung dalam praktek miniatur sebuah masyarakat. Sebagai manusia dengan jiwa sosialnya. Mahasiswa ini akan selalu menjadi pertimbangan lembaga dalam menentukan setiap kebijakan. Mahasiswa ini sadar peranannya sebagai kaum intelek, dimana turut menjadi bagian dari perubahan setiap fenomena yang nampak tidak sinergis, menjadi kontrol dari setiap kebijakan.

Kita harus menyadari bahwa pendidikan itu lebih dari sekedar semacam pengkondisian, tapi pembiasaan belajar melakukan secara rutin, gampang dan seakan-akan dengansendirinya merupakan unsur penting dalam pembangunan karakter seseorang.

Pendidikan sebenarnya memberikan dua tawaran, yakni episme : ketajaman pengetahuan ilmian dan phronesis : kebijakan praktis (tidak dapat dipelajari dari buku melainkan berdasar pengalaman). Phronesis sangat diperlukan dalam setiap permasalahan dalam pengambilankeputusan dan tindakan yang bersumber dari realita yang pernah dialami. Akan tetapi, terkadang episme juga diperlukan dalam beberapa kasus yang membutuhkan kajian ilmiah sebagai pisau bedah.

Semua kita kembalikan pada pribadi kita masing-masing. Tergantung kita dalam menentukan nilai yang akan kita dapatkan serta label mutu yang akan kita terima dengan sendirinya. Bergantung pada bagaimana kita mengkonsep sedemikian rupa langkah kita serta tindakan-tindakan bermakna yang kita lakukan dalam konsep itu. Sudah jelas sekarang, hasil akhir bukanlah tujuanutama melainkan proses adalaha harga mati bagi mereka yang mau memaknainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar